Only Hope

Meski kita tidak pernah berhubungan lagi, aku harap kenangan kita masih melekat di benakmu, aku relakan atas waktu yang tidak pernah mengizinkan kita kembali seperti dulu, kau dengan hidupmu, dan aku dengan segenap kesenduanku, aku harap kau akan selalu diselimuti kebahagiaan yang tiada pernah bosan menemani setiap langkah yang kau ayunkan kemanapun kau ingin pergi. Aku tahu diri, aku hanya sekelebat bayangan di hari-harimu yang cukup melelahkan itu. Aku bangga padamu yang telah berhasil menaklukkan sebongkahan besar batu keraguan di hatimu, kau telah menyinari dunia dengan senyummu yang penuh dengan keikhlasan. Aku sadar, aku tidak akan pernah menjadi nyata di hidupmu. Aku ikhlas melepasmu pergi dalam pengharapan besarku. Aku bersyukur telah menjadi temanmu yang hanya dapat bertemu dalam rangkaian kata-kata ringan yang cukup membuatku bahagia. Kau kebahagiaan kecilku. Dan kini aku harus melepasmu, jarak dan waktu menjadi musuh kita. Karena jarak dan waktu tidak akan pernah berpihak padaku untuk merebutmu lagi ke dalam kehidupanku. Kepada bidadari yang selalu kau ceritakan itu, aku berharap kau tidak akan pernah melepaskannya, semoga kau dapat bersanding dengannya hingga sisa hidupmu. Jangan pernah pertanyakan apa yang telah terjadi dalam hidupku selama kau pergi, karena kau tidak akan pernah kembali ke dalam sanubariku. Biar kita jalani hidup kita masing-masing yang masih menjadi teka-teki yang mesti kita cari jawabannya. Hidup ini misteri bukan? bisa jadi waktu masih membiarkanmu pergi jauh, tapi entah sampai tiba saatnya ia akan membawamu kembali, tentu dengan seizin Tuhan. Tenang saja, aku tidak akan berharap lebih. Akan ku biarkan hati ini kosong hingga tiba saatnya seseorang mengetuknya untuk ku persilahkan menjadi imamku di dunia dan akhirat. Ah, ini terlalu ironis, disaat teman-temanku sudah mendapatkan pekerjaan dan membangun sebuah keluarga, aku masih carut-marut mencari kejelasan hidup. Aku hanya berpasrah diri, dan meminta kepada Tuhan agar aku selalu diberi kekuatan yang besar untuk mengalahkan semua keraguan dalam diriku yang lemah ini. Aku harus kuat, aku cemburu padamu yang telah memperoleh apa yang telah kau perjuangkan. Aku pasti bisa mengalahkanmu walaupun kita tidak pernah memutuskan untuk saling berkompetisi. Sudahlah, aku tidak ingin meratapi kesedihanku terlalu lama, aku akan terus berjuang dan meneruskan hidupku yang singkat ini. Terkadang aku sadar, buat apa aku hidup dengan cara yang biasa kemudian mati begitu saja? sangat disayangkan kan? Aku akan terus mengusahakan hidupku semaksimal mungkin untuk memperoleh kehidupan luar biasa atas makna yang tersembunyikan oleh waktu. Semoga kebahagiaan akan menghampiriku segera. Keluarga, aku ingin keluargaku diselimuti keberkahan dan kebahagiaan disisa umurku. Untuk mimpi yang belum tercapai, tunggu aku, aku akan menjemputmu segera, dan engkau yang di sana, cepat hampiri aku, aku masih akan terus menunggumu sembari mempersiapkan bekal kita kelak! Semoga Allah mempermudah jalanmu untuk menemukanku. :)) Banda Aceh, 6 Desember 2014.

Komentar